Saya adalah aku.
Aku yang meninggalkan masa lalu.
Masa lalu yang menjelma menjadi sebuah kenangan.
Kenangan pemeras air mata kenangan pembantai perasaan kenangan pendingin hati.
Ah, kenangan.
Otak lemahku melarang keras menyimpan file-file kenangan usang. Tiada guna.
Hidup dengan bertempelan ego membentuk partikel-partikel yang mengendap di kamar hati, paling pojok, belakang, hampir gak nampak.
Penyabet gelar AWARD dalam kategori "Manusia Agak Pendiam".
Posisi itu bertahan sampai sekarang, hari ini, esok, mungkin seterusnya.
Entah 'keajaiban' dari mana!
Apa, keajaiban? Apa itu pantas disebut segurat keajaiban?
Pertanyaan bodoh.
Pertanyaan yang membuat orang menggelengkan kepala, mengangkat bahu atau memutar bola mata yang menurutnya bukan, bukan sebuah keajaiban.
Yeah. Aku pikir memang tanya yang gak wajib diberi jawaban dari siapa pun.
Sungguh, aku tak bakat bertanya.
Aku tahu betul makna dari bahagia; perasaan mendalam akan kesejahteraan yang muncul dari pikiran yang sangat sehat. Kata Matthieu Richard, orang penyandang gelar sebagai manusia paling bahagia di dunia.
Damai dan nyaman melumuri jiwa dan raga. Aku sesekali pernah merasakan itu (kebahagiaan_Red), tapi tak pernah utuh. Tak lama.
Benarkah tidak ada keabadian di dunia ini? Q pikir itu hanya bualan orang diluar sana saja.
Alhasil, kini aku membuktikannya dengan keberadaanku disini.
Honestly, aku salah satu pemuja kebahagiaan. Hingga menggerakkanku berencana membangun semacam proyek kebahagiaan.
Aku yang dulu telah menjadi kenangan.
Aku tidak 'keren', geek guys lebih tepatnya. Lebih suka menelan buku-buku dan sebuah bolpoint. I'm realized that.
Aku bukan pria keren, karena aku punya cermin di rumah.
Melalui pantulan cermin itulah aku mengenal diri sendiri dan mengetahui bahwa aku tidak keren.
Apa sih keren itu?
Keren aku definisikan ketika sebuah mobil mewah bertransformasi menjadi robot raksasa yang gagah. Mampu membuat orang banyak mengeluarkan matanya masing-masing. Kagum.
Dengan keperkasaannya menjadi pahlawan kota, penyelamat dunia dari serangan monster luar bumi.
Ingin rasanya hidup di dunia Harry Potter. Dengan sekali ayunan, tongkat sihir bisa menyulapku menjadi....ya....keren.
Dengan bacaan mantra yang sulit diucapkan oleh lidah bekuku, tentunya.
Mengikuti QUITDICH; olah raga mengendarai sapu terbang mengejar bola di udara. Ahahaha! Kedengaran sangat menggelikan bukan?
Sebuah tawa konyol. Dasar penghayal sejati.
"Apa yang kamu lakukan itu hanya fatamorgana". Aku terkejut.
"Bahkan untuk hal kecil sekalipun kamu tidak bisa." orang itu mengumandangkan petuah lagi. sadis kuadrat. Ya, orang itu...
Kalimat macam apa ini?
Batinku terjepit, berteriak dengan suara naik satu oktaf.
Sukmaku teriris pisau dapur yang baru datang dari pasar tadi pagi.
Kalimat yang menggondol satu ton beton menghantamku. Tergenjet, penyet.
Kata-kata yang mudah diucap namun harus ku akui sulit untuk diterima.
Sebuah kutukan mengerikkan.
Seperti mendengar pengumuman hari kematianku saja.
Selalu beruntung adalah keistimewaanku dan memiliki banyak kekurangan, itulah kelebihanku
Salah menafsirkan kebaikan, satu dari sekian kelebihanku terungkap. Kelebihan yang ku miliki tapi tak ingin ada dalam kehidupanku.
Terlanjur menikmati caraku menghormati hidup yang lebih memilih bersekutu dengan kebisuan.
Memborgol kedua lapis bibirku lalu membiarkan indra pendengarku terjaga.
Berjaga dikala keluar kalimat kutukan yang baru.
"Aku memang manusia
kurang pandai" kerutuku pada diri sendiri. Aku dipilih Mr.Bimbang untuk tempat persinggahannya, saat itu, tentang sikap tegas apa yang harus jadi pilihan tepat.
Untuk menghentikan kelebihan-kelebihanku yang terlanjur menjamur didalam diri. Argh!
Sebentuk sistem saraf mini yang belum terlalu biasa berfikir tentang arti hidup.
Teraniaya seuntil kata-kata. Terlalu muda untuk merangkul beban pikiran.
Yang menjadikanku seorang Profesor hebat. Suka berfikir.
Kelebihan oh kelebihan yang semakin komplit. Kelebihan yang ku anggap kekurangan. Tanpa ada keajaiban didalamnya.
Oups...! Baru tahu bahwa 'hidup' adalah keajaiban itu.
Dan tanpa mukjizat mencengkram. Dan lagi-lagi baru sadar, dengan membunuh semua yang ku anggap kelebihan itulah mukjizat yang fana. Aku harus berpindah haluan jadi pria istimewa, orang yang tahu makna hidup sesungguhnya.
Hari itu terasa begitu nenakutkan. Perselisihan terjadi diantara mereka.
Peristiwa yang tak memiliki pola. Aku tidak pintar untuk mengetahui apa penyebab kejadian tak halal itu terjadi.
Saat itu, aku hanya jadi pendengar yang sok baik. Jantungku pada posisi 'awas', wajah yang menyiratkan kegalauan dengan mimik orang bodoh asli. Big No.
Aku diam tiga bahasa diantara perdebatan mereka. Ya ya ya! Aku selalu diam disaat seperti ini, karena belum cukup umur untuk bersaing diarena dengan yang lebih tua.
Tidak hanya saat-saat seperti itu saja, bahkan aku diam disetiap waktu.
Waktuku hanyut dengan kebisuan, walau sebenarnya aku sanggup berbicara secara wajar.
Bicara yang selalu dikalahkan, bicara yang membutuhkan perancang khusus, bicara yang selalu mandek karena miskin ide bahan perbincangan.
Ah, aku tak pandai bicara.
Pria pendiam dan baik membosankan? Otak rapuhku mulai bergerak menilai pada sifat pribadi.
Hasil akhir; akulah pria itu. Damn.
Aku memang pria baik membosankan, tapi tak pernah bosan untuk berbuat baik, menurut saya.
Walaupun dimata kalian dianggap tidak benar.
Halaah! Biarlah, yang penting aku tak berniat mengganggu mereka. Lagipula kalau merasa terganggu, itu urusan mereka sendiri bukan urusanku.
Mind your own bussines!
"Kelola perbuatanmu supaya menelurkan kebaikan yang alami buat semua orang" aku menyemangati diriku demikian. Tidak mau kebaikanku selama ini dimata orang banyak hanya terkesan pura-pura, tidak ada Soul didalamnya. Aku menghindari itu. Just akting.
Semua orang juga tahu kalau hidup dalam keterpura-puraan sangatlah melelahkan.
Membuang waktu saja. Bila itu yang aku pilih, sumpah, itu hal terkonyol yang akan ku lakukam dalam sejarah hidupku. Atau malah akan masuk daftar Guinnes World Records. Entahlah, lucu sekali.
Intinya; sia-sia, percuma, tidak lazim atau apalah...
Seperti melipat siang menjadi malam.
Sabtu, 06 Agustus 2011
Cuplikan Mengerikan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar